SPBU Sarampu Disorot, Dewan Minta Pertamina Bertindak
Warga Kabupaten Polewali Mandar (Polman) semakin sulit mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Antrean panjang, stok yang sering habis, dan dugaan permainan antara SPBU dengan pengecer kini menjadi sorotan tajam DPRD dan Pemkab Polman.
Fenomena kelangkaan BBM ini mendorong Komisi II DPRD Polman menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama perwakilan PT Pertamina dan pengelola SPBU se-Polman di ruang aspirasi Gedung DPRD Polman, Jumat 24 Oktober 2025.
Dalam forum itu, sejumlah temuan lapangan diungkap. Salah satunya, SPBU Sarampu di Kecamatan Binuang ditemukan sering beroperasi pada jam-jam tidak wajar, hanya buka tengah malam hingga dini hari, sementara pada siang hari justru tutup.
Kepala Seksi Ekonomi dan Sumber Daya Alam (SDA) Pemkab Polman, Irwan Siswanto, menyebut SPBU Sarampu kerap beroperasi pada dini hari, ” Kami lihat sendiri SPBU Sarampu jarang buka siang hari. Kalaupun buka, waktunya sangat terbatas. Mereka lebih sering buka dari jam dua sampai jam lima subuh,” ungkap Irwan di hadapan peserta rapat.
Irwan menjelaskan, di tengah masyarakat yang kesulitan mendapatkan BBM subsidi, para pengecer justru leluasa membeli dalam jumlah besar menggunakan jerigen, ” Banyak pengecer membeli BBM subsidi di SPBU. Sepanjang sepengetahuan kami, pertalite dan solar itu disubsidi, artinya tidak boleh diperjualbelikan seenaknya. Kami butuh regulasi yang jelas agar daerah bisa bertindak,” tegasnya.
Irwan juga mengaku, kerap mengalami sendiri bagaimana sulitnya mengantri BBM. Sementara pengecer bisa bolak-balik ke SPBU tanpa hambatan.“Kami antre panjang sampai puluhan meter, tapi si pengecer bisa keluar masuk SPBU dengan mudah, meskipun ganti kendaraan, orangnya tetap sama,” kata Irwan geram.
Kecurigaan terhadap aktivitas SPBU Sarampu juga dilontarkan anggota Komisi II DPRD Polman, Ardan Aras. ia menyebut, SPBU Sarampu ini kalau siang tidur, namun malamnya begadang. ” Saya pernah lewat situ, ternyata SPBU ini beroperasi tengah malam, tapi kalau siang tidur,” sindir Ardan.
Hal senada disampaikan Suardi, anggota Komisi II lainnya. Ia mendesak Pertamina turun tangan menindak SPBU yang beroperasi tidak sesuai jam ketentuan, ” Ini tidak bisa dibiarkan. SPBU yang sering buka tengah malam tapi tutup pagi dan siang itu aneh. ini harus jadi perhatian,” ujarnya tajam.
Menanggapi hal itu, Sales Branch Manager (SBM) Pertamina Area Sulbar, Darmawan Tarigan, tak menampik adanya pelanggaran jam operasional pada SPBU Sarampu, ” Kalau ada SPBU yang hanya buka tengah malam, itu sudah melanggar. SPBU wajib buka siang hari. Kami akan monitor dan tindaklanjuti,” tegasnya.
Darmawan juga mengingatkan, seluruh pengelola SPBU di Polman agar tidak bermain dengan jam operasional dan pengecer ilegal, Sebab hal itu merupakan pelanggaran serius, ” Pengecer BBM wajib miliki izin resmi, sedangkan kita tahu para pengecer tidak miliki izin, tapi terkait persoalan pengecer ini kita harus bergandengan tangan, ” imbuhnya.
Sementara itu, manajer SPBU Sarampu, Wandi, mencoba membela diri. Ia beralasan bahwa SPBU-nya sering buka tengah malam karena pasokan BBM dari truk tangki Pertamina datang pada jam tersebut. “Sering datang malam tangki pertamina, yang salah itu kalau kita jual BBM tengah malam, tapi pintunya dipalang di depan, ” dalihnya.
Namun alasan tersebut dianggap tidak logis oleh anggota dewan, mengingat SPBU lain tetap beroperasi normal meskipun pengiriman BBM kerap datang malam hari.
RDP yang dipimpin Wakil Ketua Komisi II DPRD Polman, Hamzah Syamsuddin, menegaskan perlunya langkah tegas agar masyarakat, terutama petani, tidak terus menjadi korban kelangkaan BBM bersubsidi.“ Jerigen bertebaran di mana-mana, tapi saat warga mau beli BBM justru tidak ada. Ini indikasi kuat bahwa SPBU lebih mendahulukan pengecer daripada masyarakat umum,” kritik Hamzah.
Hamzah mendesak Pertamina menindak tegas SPBU yang diduga “bermain mata” dengan pengecer, karena kondisi ini sudah menimbulkan keresahan luas di masyarakat, ” Kalau terus dibiarkan, rakyat yang jadi korban. Kami minta Pertamina buka mata, jangan biarkan hal ini,” pungkasnya.






